Pasar Volatil, Saham Dividen Menarik Jadi Strategi Investasi

4 Min Read



Pemilihan saham yang berdividen menjadi strategi yang menarik bagi investor di tengah volatilitas pasar saham pada awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 6,73% dalam sebulan terakhir dan turun 3,01% sejak awal tahun hingga saat ini.

Menurut Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI), dividen bisa memberikan imbal hasil yang menarik, terutama ketika harga saham sedang rendah atau murah. “Terkadang, dividen yield bahkan bisa lebih besar daripada imbal hasil bunga deposito maupun kupon ORI atau SBN,” ujarnya.

Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, menjelaskan bahwa meskipun dividen tetap layak dipertimbangkan dalam membeli saham, konteksnya harus tepat. “Dividen seperti arus kas nyata yang masuk ke kantong investor, sementara capital gain adalah potensi kenaikan harga yang masih bersifat mark to market,” jelasnya.

Dalam kondisi pasar yang volatil, dividen menjadi bantalan psikologis dan fundamental. Namun, secara matematis, investor tetap perlu membandingkan dividend yield dengan risiko penurunan harga. Misalnya, jika dividend yield sebuah emiten sebesar 5%, tetapi sahamnya berpotensi koreksi 10%-15% karena valuasi sudah mahal atau tekanan pasar, maka return bersihnya bisa tergerus. Artinya, dividen menarik hanya jika valuasi masih masuk akal dan risiko penurunan relatif terbatas.

“Idealnya, dividend yield minimal bisa mengompensasi risiko volatilitas jangka pendek, atau minimal berada di atas rata-rata deposito dan SBN agar ada premi risiko yang masuk akal,” tambah Hendra.

Budi melihat bahwa PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memiliki dividen yang menarik. Emiten ini akan membagikan dividen dari laba tahun buku 2025 dengan dividend payout ratio (DPR) sekitar 78%. Sepanjang 2025, Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp 56,3 triliun atau tumbuh 0,93% secara tahunan (yoy). Dengan asumsi DPR 78%, total dividen yang berpotensi dibagikan mencapai sekitar Rp 43,9 triliun. Artinya, setiap pemegang saham bisa memperoleh dividen sekitar Rp 472 per saham.

Mengacu pada harga BMRI pada penutupan perdagangan Jumat (20/2) lalu di Rp 5.125 per saham, dividend yield BMRI sebesar 9,2x. Menurut Hendra, BMRI menarik karena daya tarik yield dan potensi capital gain. BMRI cenderung menawarkan dividend yield yang lebih agresif, karena laba besar dan payout ratio yang tinggi sebagai bank BUMN.

“Dengan laba yang solid dan ekspansi kredit yang masih tumbuh, kombinasi yield dan potensi rerating valuasi membuatnya menarik untuk investor income sekaligus growth moderat,” ujar Hendra.

Selain BMRI, ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang sudah ada lampu hijau untuk pembagian dividen dari buku tahun 2025.

BDMN dinilai punya dividend yield yang cukup menarik untuk kategori bank menengah, tetapi potensi capital gain tidak seagresif bank besar. Sementara BBCA memiliki yield yang tidak setinggi BMRI, tetapi kualitas laba, konsistensi ROE, dan premium valuasi membuatnya lebih stabil.

Di sisi lain, UNVR secara historis dikenal sebagai saham dividen karena DPR yang tinggi. Namun tantangannya adalah pertumbuhan laba yang sempat melambat dan tekanan kompetisi FMCG.

Hendra merekomendasikan buy on weakness untuk BBCA dengan target harga Rp 7.750 per saham. Rekomendasi speculative buy diberikan untuk BMRI dan UNVR dengan target harga masing-masing Rp 5.750 per saham dan Rp 2.500 per saham. Sementara, rekomendasi trading buy disematkan Hendra untuk BDMN dengan target harga Rp 3.000 per saham.

Share This Article