{"id":1340,"date":"2024-08-18T13:07:00","date_gmt":"2024-08-18T13:07:00","guid":{"rendered":"https:\/\/foxiz.themeruby.com\/default\/?p=1340"},"modified":"2026-02-17T11:53:06","modified_gmt":"2026-02-17T04:53:06","slug":"runway-to-real-life-how-high-fashion-is-influencing-everyday-style","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/2024\/08\/18\/runway-to-real-life-how-high-fashion-is-influencing-everyday-style\/","title":{"rendered":"Atraksi barongsai di Indonesia, harmoni budaya hingga prestasi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-drop-cap\">Jakarta (BRITENEWS) &#8211; Atraksi barongsai atau tarian singa dari Tiongkok menjadi salah satu pertunjukan yang menyemarakkan perayaan Imlek di Indonesia. Lebih dari sekadar pertunjukan yang menghibur, jejak barongsai di Indonesia menandai harmoni budaya hingga prestasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Budayawan sekaligus peneliti dalam bidang ketionghoaan Alexander Raymon atau Alex Cheung, kepada ANTARA mengatakan barongsai tidak hanya berfungsi sebagai media seni hiburan, tetapi merupakan juga sebuah bentuk spiritual dalam mengekspresikan semangat, harapan, optimisme, keberanian, dan persatuan.<\/p>\n\n\n\n<!--more-->\n\n\n\n<p><strong>Wujud harmoni<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Barongsai (W\u01d4 sh\u012b dalam Bahasa Mandarin) atau di beberapa daerah di Jawa sering disebut samsi (siamsi dalam dialek Hokkian) secara harafiah berarti tarian singa, kehadirannya di Indonesia dikenal seiring keberadaan etnis Tionghoa di tanah Nusantara.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa, barongsai kini juga telah menjadi wujud harmoni keberagaman budaya Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejak masa reformasi, pertunjukan atraksi barongsai dan liong ditampilkan secara bebas di Indonesia, bukan hanya semasa Imlek, saat Cap Go Meh atau hari raya Tionghoa lainnya, juga dapat ditemui di berbagai perhelatan budaya baik yang diselenggarakan oleh institusi, kelompok, hingga acara pribadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Seni barongsai di Indonesia terus berkembang dengan sentuhan budaya lokal, lanjut Alex, ditunjukkan proses komodifikasi saat ini terlihat dari munculnya variasi seperti barongsai Jawa, penggunaan iringan musik pop, hingga kolaborasi dengan tarian modern.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni tidak membuat identitas dan kebudayaan Tionghoa memudar, tapi justru mewarnai identitas seni pertunjukan barongsai itu sendiri dengan kekhasan di setiap daerah di Indonesia,\u201d ujar penulis yang juga lulusan Magister Kajian Sejarah dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) itu.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Alex mengatakan perkumpulan-perkumpulan Tionghoa seperti <em>Hoo Hap Hwee, Hokkian Hwee Koan, Sin Ming Hui, Kuo Chi Yen Chiu She, Khong Kauw Hwee, Shantung Kung Hui, Kwong Siew Wai Kuan<\/em>, memegang peranan penting terhadap keberlangsungan seni pertunjukan barongsai di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hal ini juga telah banyak komunitas barongsai yang konsisten mempromosikan barongsai sekaligus melestarikan seni pertunjukan Tionghoa itu. Bahkan barongsai di Indonesia juga mengedepankan keberagaman dengan membuka kesempatan bergabung tanpa membedakan suku, agama, maupun ras.<\/p>\n\n\n\n<p>Prinsip itu diterapkan oleh Yayasan Barongsai Kong Ha Hong sebagai salah satu komunitas yang telah mengembangkan pertunjukan barongsai di Indonesia selama lebih dari dari 20 tahun dan sudah lima kali meraih gelar juara dunia, pada 2009 di China, 2014 di Indonesia, 2015 di China, 2017 di Indonesia, dan tahun 2019 di China.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p>Ketua Yayasan Barongsai Kong Ha Hong Ronald Sjarif kepada ANTARA mengatakan pihaknya membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin bergabung, dengan batas usia minimal sekitar delapan tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketertarikan masyarakat Indonesia untuk bergabung barongsai juga kerap berdatangan ketika mereka mengadakan pertunjukan seperti tampil di pusat perbelanjaan atau mal.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita enggak saring-menyaring, yang penting ada anggota baru. Biasanya kita terima minimum sekitar 8 tahun dan tidak membedakan suku, agama, dan ras. Dan karena ini yayasan sosial, jadi kami melatih mereka sampai bisa main. Kalau hobi oke silakan, dan kami tidak pungut bayaran,\u201d kata dia.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tradisi dan ajang prestasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Atraksi barongsai menampilkan kolaborasi dua orang penari yang bersembunyi di dalam kostum singa yang menyelaraskan gerak tubuh diiringi tabuhan tambur, denting simbal, serta gong ini tak hanya hadir sebagai bagian dari tradisi budaya, namun juga hiburan dan ajang prestasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pelatih Barongsai Kong Ha Hong Andri Wijaya saat ditemui ANTARA mengatakan atraksi barongsai barongsai tampil tidak hanya untuk pertunjukan Imlek, namun sudah diakui sebagai cabang olahraga oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAda perbedaan karena yang satu untuk hiburan atau olahraga yang satu lagi untuk budaya,\u201d kata Andri.<\/p>\n\n\n\n<p>Pelatih yang juga tergabung dalam Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) itu mengatakan bahwa barongsai sebagai budaya itu mempertahankan tradisi. Dalam praktiknya, barongsai sebagai budaya kerap diawali seperti berdoa, mendatangi vihara, hingga mengikuti tata cara tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBarongsai itu memang kan tadinya lahir dari budaya jadi ada tata cara alurnya. Kalau misalkan mau pembukaan toko mereka harus ada ambil sayur, itu mempunyai makna tertentu. Jadi tradisi-tradisi itu memang masih ada,\u201d tutur Andri.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, barongsai sebagai hiburan dalam berbagai pertunjukan di mal maupun festival tetap dijalankan untuk menghibur penonton. Atraksi barongsai dengan konsep pertunjukan, menyusun koreografi, serta menentukan musik latar yang tengah ramai diputar dengan tujuan menghadirkan sesuatu yang menarik.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, barongsai di Indonesia menjadi ajang prestasi melalui diakui sebagai cabang olahraga sejak tahun 2013. Cabang olahraga ini mulai dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat pada tahun 2016. Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) telah dibentuk untuk menaungi cabang olahraga tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPertunjukan barongsai sebagai olahraga itu ada tekniknya. Karena sekarang ini barongsai sudah berkembang sebagai olahraga, tekniknya sudah makin tinggi kesulitannya. Makin susah, makin sulit,\u201d kata Andri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkembangan sekarang ini, barongsai sudah banyak jenis permainannya yang dipadukan dengan kesenian atau seni bela diri Kungfu atau Wushu, dan menjadikan gerakan-gerakan yang dilakukan menjadi indah dan serasi dengan alat musik pengiring barongsai.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut, Andri berharap masa depan seni barongsai di Indonesia agar terus dimasukkan ke dalam ajang olahraga terutama bisa mendorong semakin banyaknya generasi muda yang tertarik barongsai hingga menjadi atlet, peluang untuk meningkatkan prestasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita berharap dengan adanya olahraga ini tumbuh lagi generasi muda yang menggemari barongsai,&#8221; kata Andri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta (BRITENEWS) &#8211; Atraksi barongsai atau tarian singa dari Tiongkok menjadi salah satu pertunjukan yang menyemarakkan perayaan Imlek di Indonesia. Lebih dari sekadar pertunjukan yang menghibur, jejak barongsai di Indonesia menandai harmoni budaya hingga prestasi. Budayawan sekaligus peneliti dalam bidang ketionghoaan Alexander Raymon atau Alex Cheung, kepada ANTARA mengatakan barongsai tidak hanya berfungsi sebagai media [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":3276,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[49,51,57],"class_list":{"0":"post-1340","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-budaya","8":"tag-hypewire","9":"tag-nextgenpop","10":"tag-wellness"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1340"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1340\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3274,"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1340\/revisions\/3274"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3276"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.soundboedoeters.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}